“Semoga album kompilasi “We Are All Palestinian” ini bisa menambah rasa peduli dan empati terhadap saudara kita di Palestina. Saya yakin anda pasti setuju masalah di Palestina bukan soal suku bangsa tertentu, agama, atau warna kulit tapi juga masalah kita yang memiliki hati,” kata Khaidir gitaris ELKA sekaligus produser pelaksana kepada Berisik Radio.
Pemilihan sembilan band tersebut langsung dilakukan oleh personil ELKA yang juga bertindak sebagai panitia pembuatan album tanpa mengkhususkan pada genre musik tertentu. “Banyak band yang sudah kami undang untuk bergabung dalam album ini, namun tidak semua menyanggupinya karena ada beberapa band yang juga sedang proses pengerjaan album mereka,” tandasnya.
Menurut Khaidir, pengerjaan album sudah mencapai 80% dan sepenuhnya dilakukan di studio Black, Panglima Polim yang dimiliki oleh Zeke Khaseli, vokalis Zeke and The Popo. Selepas Idul Fitri, album ini sudah dipastikan memasuki tahap mastering.
We Are All Palestinian bisa dibilang penyegaran sebab sebagian besar band yang tergabung sengaja menciptakan lagu baru. Setiap band diberi kebebasan untuk mengaransemen lagunya sesuai karakter masing namun mewajibkan lagu yang diciptakannya berbahasa Inggris. “Masalah aransemen musik dibebaskan sesuai dengan band-band itu sendiri dan lirik yang menggunakan bahasa Inggris karena ini akan diperdengarkan secara Internasional dan Insya Allah album ini akan dibawa ke Gaza,” terang pria berkacamata ini.
Rencananya album amal ini akan disebar di beberapa toko kaset dan distro, serta acara-acara seminar. “Kalau mau membeli di toko, distro, atau acara seminar dan memakai RBT-nya akan dapat 2 keuntungan. Bisa beramal sambil menikmati lagu dari band-band indie ternama. Karena 70% penjualan akan dialokasikan ke Palestina,” ujar Khaidir setengah berpromosi.


