Di kesibukan yang mengejar deadline study, sibuk dengan pekerjaan dan adapula yang sibuk dengan kesibukannya sendiri ini menjadi bagian awal untuk Armada Racun berkenalan. Awalnya freddy, nadya (additional keyboards), dan dani bosan dengan band-band mereka sebelumnya. Sampai akhirnya mereka bertemu dan sepakat membentuk band dengan sound dan musik seperti itu dengan nama Armada Racun. Lalu untuk drummer berganti-ganti hingga total ada 3 drummer sebelum akhirnya somed masuk sampai sekarang. “Jadilah album kami kini ada 4 drummer di sana,ahahaha” somed tertawa.
Album yang bertajuk La Peste tersebut dibuat di Prancis sekitar tahun 2007, mereka berpindah-pindah studio untuk merekam beberapa materi, saat itu akhirnya mereka mempunyai 4 lagu. “Sampai saat itu kami tidak tahu lagu tersebut mau diapakan. Sampai akhirnya kami memproduksi beberapa keping sendiri (dengan format CD-R) dan kami selundupkan melalui kawan untuk dijual di Prancis. Tanpa diduga hasilnya sold out. Sebagian hasil penjualan tersebut kami gunakan untuk merekam beberapa materi lain di tahun 2008. sampai akhirnya semua materi terkumpul di La Peste.” Sahut Freddy.
Di lagu nya yang berjudul ‘Boys Kissing Boys’ dentuman drum dan suara atmosfer synthesizer dari Nadya yang catchy membuat kita berfikir tentang menghargai kebebasan berekspresi. “Kalau memang mau demokrasi ya jangan setengah-tengah. Jangan homophobia juga berarti. Ini juga terinspirasi dari selera musik kami yang berbeda.” Lalu jika kita memperhatikan video Armada Racun yang Amerika versi 1 dan Amerika versi 2 ternyata mereka ingin menonjolkan keahlian kedua temannya yang ingin memproduksi lagu AMERIKA menjadi sebuah video. Dan mereka mempunyai ide yang menarik dengan lagu itu. “Ya udah terus di kerjain dan hasilnya memuaskan sekali hehe. Kami juga bikin showcase buat launching video AMERIKA itu dan kami main akustik yang niatnya akan di buat DVD. Tunggu aja, ada beberapa lagu yang udah kita publisH di Youtube.”terang mas Freddy.
Apalagi mereka menyukai lagu mereka sendiri dan selalu bangga akan kehilangan efek gitar nya di format bandnya membuat artwork album La Peste itu semakin meracuni pendengarnya dengan racun tikus yang ciamik. “Wabah tikus yang menjadi tema album kami, wabah La Peste. Konsep La Peste sendiri terinsipirasi dari wabah penyakit pes di Prancis pada tahun 588 Masehi. Wabah yang disebarkan oleh tikus ini menyebar luas sampai ke dataran-dataran di Eropa dan mengakibatkan hampir 25 juta warga Eropa meninggal dunia. Bencana yang menjadi salah satu bencana terbesar sepanjang sejarah umat manusia inilah yang menginspirasi kami dan menganalogikan music kami sebagai pasukan tikus yang siap menebar racun ke telinga anda, hahaha.”
Soimay adalah makanan favorit anak-anak Armada Racun. Mereka sudah jengah dengan gudeg, katanya. Tapi yang bikin jengah lagi ketika ada yang menyasar menelpon sang manager untuk nge-booking band ARMADA (bukan Armada Racun) dan karena pasrahnya mereka selalu tertawa jika ada yang suka salah paham akan semua itu. “Hahaha…bodo amat, karena kita nggak perlu di bandingin ngga penting juga. ntar ke-geer-an mereka. Yang pasti kalo disuruh pilih tattoo atau ceramah didepan mesjid kita pasti akan memilih di tato terus ceramah pake lagu Boys Kising Boys di masjid hahaha,” sahut mereka sambil tertawa. “Harapan yang pasti adalah tetap berkreasi dengan musik dan bisa main di berisikradio, haha” lanjut Freddy menutupi pembicaraan.
ARMADA RACUN, Trio Beracun dari Jogja

Read 278 times
Published in
Movement